Archive for the ‘Paintings’ Category

Monster who drain the underground water

January 2, 2014

Monster who drain the underground water 100x100cm acrylic paint on canvas 2013Monster who drain the underground water 100x100cm acrylic paint on canvas 2013

setiap tahun hampir 1000 hotel/villa dan sarana pariwisata lainya dibangun di Bali….mereka hampir semuanya mengambil air dari dalam tanah….dalam kurun waktu 10tahun ketersediaan air bersih di Bali turun drastis, sementara sumber-sumber air yang ada juga tidak luput dari eksploitasi, beberapa sumber air diprivatisasi, diolah jadi air kemasan dan celakanya kita MEMBELINYA, sementara botolnya yg dari plastik kita buang sembarangan….bayangkan 30tahun kedepan!..selamat datang AGAMA TIRTHA!

apa lagi mau reklamasi seluas 800hektar lebih di kawasan Benoa, membangun semua sarana wisata yang direncanakan, dimana mereka mau mencari air bersih? harus ngebor lebih dalam lagi untuk mendapatkan sumber air….sementara itu bapak dan ibu kita di kampung selalu mengeluh sawahnya yang masih tersisa kering dan air PDAM mengalami mati bergilir…ini kenyataan bukan adai-andai lagi!!!!!

Advertisements

Alien who try to build new island of sunset and sunrise

December 13, 2013

IMG_9290 IMG_8703 IMG_8760 IMG_8932 IMG_9000 IMG_9010 IMG_9065 IMG_9072 IMG_9271 IMG_9287bali raped island 110x80cm acrylic paint on map of Bali island 2013

Bali raped island 110x80cm acrylic paint on map of Bali island 2013

trapped behind bars 110x80cm acrylic paint on a map of Bali island 2013

trapped behind bars 110x80cm acrylic paint on a map of Bali island 2013

alien who try to build new island of sunset and sunrise 100x100cm acrylic, permanent ink and plastic waste on canvas 2013Alien who try to build new island of sunset and sunrise 100x100cm acrylic, permanent ink and plastic waste on canvas 2013

ini adalah respon karya terhadap reklamasi teluk Benoa di Bali, dari awal pemerintah telah berbohong kepada publik tentang surat keputusan gubernur Bali yang memberi ijin untuk mereklamasi wilayah perairan teluk Benoa di Bali selatan. dengan alasan kesejahteraan dan peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat Bali, bali ini telah lama tergadaikan kepada investor rakus yang ahanya peduli dengan keuntungan mereka saja! TOLAK REKLAMASI HARGA MATI demi harkat dan martabat anak cucu generasi pewaris sah dari Bali dwipa!!!!!

Civil militia

December 13, 2013

civil militia 100x100cm acrylic and waste plastic bag on canvas 2013Civil militia 100x100cm acrylic and waste plastic bag on canvas 2013

Adalah sebuah gambaran yang banyak terjadi hari ini, bagaimana milisi sipil digunakan oleh penguasa, pengusaha bahkan aparat negara sengaja “memelihara” untuk tujuan-tujuan tertentu.  penguasa menyusui milisi seperti  ini untuk menghadang yang kontra terhadap kebijakan yang mereka buat yang tidak memihak kebenaran dan masyarakat banyak, pengusaha menggunakan milisi ini untuk mempermudah hal-hal yang berkaitan dengan bisnis mereka dan aparat menggunakan milisi ini sebagai garda depan untuk menghadapi aksi-aksi masyarakat sipil dengan tujuan jika terjadi kerusuhan saat aksi aparat keamanan tidak terkena sorot dan mengklaim itu adalah elemen masyarakat sipil yang saling bertikai….HEBAT BUKAN?

dan itu sempat saya alami ketika mengikuti aksi kawan-kawan ForBali dalam menyurakan penolakan reklamasi teluk Benoa selluas 800 hektar yang akan dijadikan onestop touris destination di Bali selatan, saat aksi yang biasanya dijaga aparat keamanan di sini beda, saat itu ada rombongan orang berbadan kekar, berpakaian khas adat Hindu Bali warna hitam, mereka mau membubarkan paksa aksi kawan-kawan, benar slogan yang menyatakan “membela yang membayar”

salam dari pulau sorga!!!

seni sana sini

October 26, 2013

Legong the dance of bird (seri rekonstruksi excotisme Bali) 80x120cm permanent ink, acrylic on plastic trash 2013Legong the dance of bird (seri rekonstruksi excotisme Bali) 80x120cm permanent ink, acrylic on plastic trash 2013

 

 

Secret dance of virgin (seri rekonstruksi excotisme Bali) 80x120cm permanent ink, acrylic on plastic trash 2013Secret dance of virgin (seri rekonstruksi excotisme Bali) 80x120cm permanent ink, acrylic on plastic trash 2013

 

 

 

Picture 372Pasukan khusus dari negeri kafir, mixed media kinetik installation, variable size 2013

 

Picture 378

 

Picture 374

 

Proses berkarya

Picture 345

 

Picture 343

 

Picture 327

 

Picture 325

 

Opening exhibition

 

Picture 392

 

Picture 406

 

Picture 414

 

Picture 462

 

Picture 460

 

Picture 453

Picture 509

 

Picture 498

 

Picture 474

 

 

 

kenken kabare seniman?

September 30, 2013

visual artist that wearing suit made by plastic trash (waiting big issue mood on series) 30x40cm acrylic paint, ink and plastic trash on recycle paper 2013

visual artist that wearing suit made by plastic trash (waiting big issue mood on series) 30x40cm acrylic paint, ink and plastic trash on recycle paper 2013

visual artist that has fake mustache made by plastic trash (waiting big issue mood on series) 30x40cm acrylic paint, ink and plastic trash on recycle paper 2013

visual artist that has fake mustache made by plastic trash (waiting big issue mood on series) 30x40cm acrylic paint, ink and plastic trash on recycle paper 2013

kedua karya ini bisa dibilang respon terhadap gundah gulana/curhatan seorang seniman ketika melihat dunia kesenian, seni rupa khususnya itu masturbasi sendiri hari ini, masa-masa pasca boom pasar, terjadi kelesuan pasar, masa dimana banyak seniman resah kemudian tiba-tiba muncul berbagai peristiwa seperti, diskusi seni, kembali lagi menghimpun diri dalam kelompok, coba menggulirkan issue, mazab atau apalah namanya, memancing di air keruh dan banyak lagi ide culas lainya.

menunggu issu apa yang akan menjadi trend selanjutnya, seniman banyak yang kering gagasan, seniman hari ini tidak ubahnya predator-predator gedung parlemen kita.  Seni hari ini tidak lagi menghaluskan jiwa-jiwa manusia, kesenian hari ini adalah apa yang laku dan tidak.

salam kesenian.

industry, hidden history and legacy the island of the gods

September 28, 2013

made bayak-industry hidden history and legacy the island of the gods-mixed mediaIndustry, hidden history and legacy of the island of the gods 125x245cm mixed media on plywood

Karya ini adalah persembahan saya untuk tanah kelahiran saya Bali, hari ini banyak persoalan yang dihadapi Bali sebagai destinasi wisata, budaya dan orang-orang Bali-nya sendiri.

Pariwisata seperti pedang bermata dua, disatu sisi memberikan dampak yang bagus bagi perkembangan masyarakat Bali. Namun disisi lain menjadi bencana bagi nilai-nilai budaya lokal yang semakin tergerus seiring pesatnya pembangunan. Dan dampak bagi lingkungan lebih parah lagi, ketika tidak ada perencanaan dan kontrol yang kuat dari segenap masyarakat dan pemerintah.

Banyaknya alih fungsi lahan pertanian produktif untuk pembangunan fasilitas pariwisata yang sebenarnya tidak perlu, fasilitas yang ada sebenarnya masih cukup, namun karena besarnya minat investor untuk membangun membuat berjamurnya pembagunan private villa dan hotel. Disamping itu pariwisata telah memabukan masyarakat Bali, terutama generasi mudanya, dimana pandangan menjadi petani tidaklah keren. Mereka berpandangan  jauh lebih keren kalau bekerja di hotel atau villa karena berseragam, jamnya kantoran, walau hanya manjadi security atau garderner karena terlihat lebih bersih, tidak bergumul lumpur dan “kontor”. Budaya agraris yang sudah ratusan tahun terbentuk dan menjadi bagian erat kebudayaan Bali, bahkan telah meninggalkan artepak kebudayaan yang bernilai sangat tinggi. Subak, salah satu sistem irigasi yang sangat cerdas, kini merana karena sawah-sawah banyak menjadi areal perumahan, private villa dan hotel. Ironinya. mereka meratakan teras-teras sawah, menanaminya dengan beton dan menamainya dengan nama-nama areal tersebut, seperti terrace villa, the village hotel, sawah indah, dll.

Konsumerisme dan kapitalisme menjadi dewa baru di pulau sorga ini, mall, restoran, hotel dan jejeran gift shop membawa “mahluk asing” bagi alam dan lingkungan  Bali, mereka berwujud kantong dan botol plastik yang jumlahnya berton-ton setiap harinya. Dengan “tong sampah alami” yang banyak ada di Bali, jurang dan sungai menjadi tempat pembuangan sampah-sampah tersebut. Munculah masalah baru, sampah plastik yang mencemari laut, pantai, sungai dan sawah di Bali. Tidak adanya mengolahan sampah yang baik menyebabkan sampah tersebut tidak tertangani.

Sebelum plastik dikenal, masyarakat Bali menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan. Sehabis makan, pembungkus daun itu langsung dibuang di sembarang tempat dan tentu dengan mudah akan diurai alam. Namun, kebiasaan membuang sampah tersebut mengendap di alam bawah sadar, dan diwariskan turun temurun. Ketika sekarang banyak makanan dan minuman dibungkus plastik, perilaku membuang sampah masih tetap mengikuti kebiasaan lama. Sampah plastik dibuang sembarangan tanpa kesadaran akan efek negatifnya. Bahkan banyak petani menggunakan sampah plastik untuk alat mengusir burung pipit, dan sisa plastik itu akhirnya mencemari sawah.

dari proses saya menggali tentang industri pariwisata ini, ternyata sangat erat keterkaitannya dengan sejarah dan tragedy 1965 di Bali. Pada masa itu pembersihan terhadap orang-orang yang dilabeli PKI memang bukalah hanya sekedar amuk masa seperti dikesankan, namun sebuah proses sitematis untuk menghabisi idiologi politik, pergerakan berbasis kelas, gerakan petani dan buruh dan orang-orang kritis lainya. Sehingga memudahkan masuknya sistem baru berupa kapitalisasi Bali sebagai destinasi  wisata, yang juga akan mengkonstruksi industri pariwisata Bali sampai hari ini, bagaimana image orang-orang Bali dibentuk, budaya bahkan kepercayaan orang Bali adalah hasil bentukan. Hilangnya gerakan dan orang-orang kritis di Bali tentunya akan memuluskan semua setingan besar atas Bali, kajian dan perdebatan kritis hampir tidak pernah terjadi atas semua kebijakan yang dilaksanakan untuk pengembangan industri pariwisata, pemimpinnya dibuat patuh terhadap pusat, menjadikan Bali seperti jalan bebas hambatan untuk masuknya investor.

Yang paling celaka adalah masayarakat Bali dikesankan apolitis, penduduknya artistik, disibukan dengan upacara yang megah dan besar. Kesenian yang dulunya merupakan kegiatan agraria masyarakat Bali dan menjadi bagian yang sangat erat dengan kehidupan sosial masyarakat. Saat hadirnya pariwisata, berubah menjadi komoditas yang diexsploitasi abis-abisan. Lukisan, patung menjadi barang souvenir berharga kacangan dan bahkan ada sentra-sentra grosiran terhadap barang-barang tersebut. Anak dengan umur belasan beserta kelompok-kelompok kesenian diangkut dengan truk menuju hotel-hotel untuk pentas dihadapan turis dengan bayaran yang tidak seberapa. Cerita drama tari sarat makna filosofis yang sakral digubah, disesuaikan dengan kebutuhan tontonan bagi wisatawan.

Orang Bali dibuat mabok dengan pariwisata yang menjanjikan kehidupan lebih layak, namun pariwisata hanya memberikan 1% manfaat bagi masyarakat Bali. Namun dampak yang diakibatkan sampai hari ini sedemikian besar, orang Bali tidak mempunyai bayangan dengan masa depannya tanpa pariwisata terbukti saat bom Bali terjadi dan wisatawan stop datang semuanya kesusahan seolah-olah dunia sudah kiamat.

Saya menggunakan lukisan pemandangan yang dibeli di kios grosiran, kemudian saya respon dengan menambahkan bagunan-bangunan dan tulisan promosi tanah dijual, persis seperti banyak terjadi hari ini di Bali. Lukisan tersebut saya tempel di tengah-tengah bidang putih dengan kolase surat kabar lokal. Bidang putih tersebut saya isi dengan sketsa yang saya adopsi dari bentuk rerajahan Bali (gambar bersifat mistik), seri cerita kawah Candradimuka, penghakiman bagi roh setelah kehidupan, jakalau kita melakukan dosa pada saat menjalani kehidupan duniawi, yang mencerminkan nilai luhur masyarakat Bali zaman dulu, namun terasa hambar kini disaat materialism didewakan, banyak orang tidak percaya lagi tentang ajaran karmapala, kamu berbuat, kamu juga akan mendapat hasilnya.

Bagian atas ada dua buah mahluk (adopsi rerajahan) dengan dua lidah berujung api warna hitam menjulur seperti jalan raya menjilati sebuah wajah dengan mata terpejam, sedagkan mata ketiganya membuka.

Di sisi lain ada sebuah gambar mobil keruk yang biasanya dipergunakan dalam proyek pembangunan, menggambarkan situasi Bali hari ini, namun tetap dengan visual mengadopsi bahasa visual lukisan tradisional Bali, di atasnya ada sebuah banguna candi bentar namun konstruksinya kellihatan dan sudah rapuh memiuh dengan warna putih.

Paling bawah dengan teknik pointelis, ada jejeran tengkorak dan tulang-tulang menggambarkan pondasi bangunan kebudayaan dan industri pariwisata Bali terbangun dari tumpukan korban tragedy 65 yang sampai saat ini masih menjadi aib bagi sebagian orang untuk mengingat dan membicarakannya. Bagi orang Bali tragedy itu sudah “dibersihkan” dengan sebuah upacara besar dan hendaknya jangan diungkit-ungkit lagi.

Beberapa kali terdengar kabar ketika ada sebuah pembangunan fasilitas hotel di kawasan tertentu di Bali, saat pembuatan pondasi para pekerja menemukan tulang belulang manusia atau saat terjadi abrasi sebuah pantai dikawasan Bali barat, tiba-tiba banyak tulang manusia muncul karena daratan semakin tergerus air. Kalau melihat sistem upacara ngaben di Bali, masayarakat Hindu Bali yang terpengaruh Hindu Siwa tidak pernah menyisakan tulang manusia terkubur, semuanya akan dibakar menjadi abu, kecuali beberapa kepercayaan kuno Bali pedalaman seperti Truyan atau di desa Gobleg di Bali utara. BIsa dipastika tulang-tulang tersebuat berasal dari kuburan massal atas orang-orang yang dilabeli anggota PKI, dibunuh di tempat itu dan langsung dikubur disana.

Trash Art or Art Trash????

August 6, 2013

The dance of virgin 65x75cm spray paint on plastic trash 2013The dance of virgin 65x75cm acrylic, ink and spray paint on plastic trash 2013

Brahmana Keling 65x75cm spray paint on plastic trash 2013The curse of Brahmana Keling 65x75cm acrylic, ink and spray paint on plastic trash 2013

Rarung, the dance of anger 104x136cm permanet ink on plastic trash 2013Rarung, the dance of anger 104x136cm permanet ink on plastic trash 2013

Rarung is one of the Rangda most powerful and great student ( Rangda=mystical creature on Balinese Hindu belief)

Among the many sacred figure that is popular in Bali, Rangda big names, and Celuluk and Rarung will probably instantly reminded on a Calonarang story, a story which is still frequently staged by custom villages hustle and bustle of Bali ceremony interrupted its yard. But there are also staging done by involving one of them in the story that is Rangda and Barong Dance for commercial interests and introduction to the culture of Bali for Traveller from overseas.

Rangda as it was known by the whole people of Hindus in Bali, is a figure of a creepy creature, described as a woman with long hair and a ragged nails, tongue, and long breast. (Some beliefs said Rangda symbolize the highest beauty, universal beauty, in old transcript Rangda is unisex and more fearless of symbolism than we know nowadays) Her face is scary and has sharp teeth. But really said Rangda according to etymology, derived from ancient Javanese language that is meaningful from Randa said Janda (widow). Rangda is a reference to the widow of the Tri Wangsa, namely Vaishya, Knight and Brahmana. Whereas the Sudras called Balu and Balu said when in Balinese royale language is Rangda.

In the process, the term for widow Rangda very seldom we hear, because it is worried raises unpleasant effects exist Rangda remember that ‘Aeng’ (horror) and frightening, and is identical to the left of the knowledgeable (pengiwa). In other words, there is the feeling of fear, hurt and embarrassed when said can do the highest black magic knowledge (neluh nerangjana/ngeleak).

In this appearing physically, figure a Rangda some are known by different names such as Rarung variants and Celuluk. In Calonarang play two buttonhole Celuluk and Rarung and is described as a stooge- of the Rangda.

There are two differences are most obvious when quoting figures Rarung and Rangda. When Rangda is a reference to the old Divorced parents belong (lingsir), Rarung figure depicted is far more beautiful and younger. Viewed in terms of the colors used, Rangda is usually portrayed in a way that more extensive use of tapel or white mask.

IMG_1587nThe Celuluk leak from Bali 87x135cm acrylic, ink on plastic trash 2013

Not much different from the above two figures, Celuluk was described as the same creepy figure and as mentioned earlier, Celuluk known as his accomplices in the play Calonarang Rangda.

For me personally, in such form of face, Celuluk far more terrifying than the figure of Rangda sacred by Hindus in Bali and also Rarung. With a distinctive skull shape, plus a large grin and teeth as well as sharp, Celuluk figure reportedly able to put the fear of those who looked closely only of elements or mask alone.

The war that we never win 125x125cm permanet ink on plastic trash 2013The war that we never win 125x125cm permanet ink on plastic trash 2013

Barong and Keris Dance is a typical Balinese dance that originated from the treasures of Pre-Hindu culture. This dance describes the battle between righteousness (Dharma) and evil (adharma). Form by virtue played by Barong, the dancers with costumes quadruped, while the form of sleaze played by Rangda, the sinister figure with two pointy fangs in his mouth.
There are several types of commonly displayed Barong Dance in Bali, in which Barong Ket, Barong Bangkal (pig), Barong Macan (tiger), Barong Landung (big and tall couple figures). However, among the types of Barong is most often a tourist treat is Barong Ket, Barong Keket or who have a fairly complete costume and dance.

Barong Ket costume generally describes the combination of a lion, tiger, and bull. In his body decorated with ornaments from the skin, pieces of mirror glass, and also features the feathers of pandan leaf fibers. Barong is played by two dancers (saluk interpreter / interpreter Bapang): one dancer took up positions in front of the motion plays Barong head and front legs, while the second is behind the dancers playing the Barong hind legs and tail.

At first glance, Barong Ket is not much different from the usual Lion Dance performed by the Chinese community. It’s just that, a story that is played in this show is different, that is the story the fight between Barong and Rangda are equipped with other figures, like Ape (friend Barong), Dewi Kunti, Sahadev (son Kunti), and followers of Rangda Rangda. the story are, mother of grants (King of Bali in the tenth century), was condemned by the father grants for practicing witchcraft / black magic.

After becoming a widow, she summoned all the evil spirits and demons in the woods, went to grants.
A fight broke out, but his forces are too strong and Rangda and Barong Erland had to ask for help.
Barong came and fights occur. Rangda Magic Making grants all soldiers want to kill yourself, they poisoned dagger thrust into their own stomachs and chests. Successfully Barong protects the forces so immune to the sharp keris. In the end, in this great battle no ones win, that symbolize immortal combat in this world, there will be allways dark and light, good and bad, happy and sadness etc, just how make it balance so the world/life keep moving on.

Mask of Barong and Rangda are considered sacred, and before they were taken out, stakeholders (leaders of Hindu ceremonies) comes to sprinkle them with holy water taken from Mount Agung, and besides, some of the offerings and the offerings are also presented.

the qustion are: 1. why I like to draw an paint those kind of things?

2. why use plastic as main medium?

1. I am a Balinese who growing up in the small village and surrounding by Balinese Hinduism story, mystic, myth and legend. I have  grandfather who has “magic power” blood and until now he practice in his daily life as person who studying Lontar (ancient Balinese texts) and sometime peoples ask him to completed their ceremony (as a priest). In the same time, I grown up with hidden history, there a dark side of story still hiding during the 65 mess killing in Indonesia, especially in Bali that tragedy content and closely related with the tourism industry, social and culture, than the religion take a important part. Until now I continue to developing my understanding. I let it colliding, between noble belief about my cultural background and the fact of hidden history and nowadays issue.

My early age drawings are about Balinese myth or Rajahan (mystical drawing) I saw what my grandfather did.

now my 7 year son, from his very early age he already love to watch Barong and Rangda dance (the secret one at the temple or the show for tourism industry) he never get scare like almost kids, his drawing almost all Barong and Rangda theme. During his school holiday it almost every day he ask me to get him to Barong show and after that he ask me to draw the figur in those story like Barong, Rangda, Rarung, Celuluk etc. So the idea just coming up all from my background and daily activity with my families.

Why using plastic? My works not only contribute to discourse on plastic waste management; they also provide social and culture commentary. The icons displayed in his work evoke Bali’s exotic past which, from the Dutch colonial era to the present day, are exploited by the cultural propaganda of the tourism industry. In addition to being one of the biggest contributors to waste in Bali, the tourism industry has also negatively impacted the overall ecological, social, and cultural health of the island. The construction of tourism facilities often proceeds with no regard for Balinese spatial concepts or needs. The result: custom is ignored by tourism investors, village boundaries are violated, sacred art is rendered profane— as sacred objects of the temple are sold as collectible antiques—and prostitution in dimly lit cafes proliferates the island.

Before plastic was a common commodity, Balinese used banana leaves as food wrappers. After eating the meal inside, they would immediately discard the wrapper leaves anywhere, and the organic waste would return to nature. Such littering habits settled into the Balinese subconscious and were handed down for generations. Now, although most food and beverages are served in plastic, littering continues to follow these old customs. The careless disposal of plastic waste has had dramatic negative effects and impacted many aspects of daily life. For example, many rice farmers use plastic rubbish to repel sparrows from their fields; the fallen remnants eventually contaminate the entire paddies. I try to rebuild the exotic and mystical images of Bali using nowadays issue.

a tale from the island of the gods 122x122cm acrylic paint, ink, plastic trash, recycle paper on plywood 2013.a tale from the island of the gods 122x122cm acrylic paint, ink, plastic trash, recycle paper on plywood 2013.

In this work I just wanna to say: until the last land that we sold, until the last air we breathe and until the last fish that we find all contain hight pollutions that that time we all know that we can’t life it and we all know that tourism industry in Bali just a small part from whole life of young generations…we no need artificial island…we no need reclamation!

special art work made for Anti Corruption Fest 2013 Bali

May 27, 2013

 

artwork for anti korupsi fest 120x120cm acrylic on newspaper collage and plywood 2013

Art work for anti korupsi fest 120x120cm acrylic on newspaper collage and plywood 2013

 

indorevolt design 2013

T-shirt design from the painting anti corruption fest 2013 propaganda

2.artwork for anti korupsi fest 120x120cm acrylic on newspaper collage and plywood 2013

artwork for anti korupsi fest 120x120cm acrylic on newspaper collage and plywood 2013

Two of these art works already exhibit at goverment building at Denpasar Bali during the Anti Corruption Fest event, the event are from Indonsian Corruption Watch propaganda tour with lots of great Indoensia indie band and musician.

and from one of this painting I decide to made it as a T-shirt design for propaganda because corruption in Indoensia are getting worse day by day. the words at back side the T-shirt is ” the corruption take other live and none of our religion related on it”

Plasticology reissue

April 7, 2013

cover

Rangda Nata Ing Dirah 65x75cm spray paint on plastic trash 2013 copy

Rangda Nata Ing Dirah 65x75cm spray paint on plastic trash 2013

(scroll down for english text)

Plasticology dan Eksotisme Bali

Oleh: Wayan Jengki Sunarta*

Sejak ditemukan awal abad XX, plastik telah menjadi pilihan praktis, pragmatis dan murah. Namun di balik semua itu, plastik menebar teror, horor, kecemasan, penyakit, dan kehancuran alam. Tanah memerlukan waktu ribuan tahun mengurai plastik. Jika dibakar, asapnya akan meracuni udara dan pernafasan. Bahkan, stereofoam yang sering dipakai mengemas makanan bisa menyebabkan kanker dan sampahnya tak bisa diurai oleh alam. Hingga detik ini sampah plastik masih menjadi isu ekologi di tingkat lokal, nasional, regional, maupun internasional.

Di Bali sendiri, penanganan sampah plastik telah menjadi agenda khusus Pemerintah Provinsi Bali. Melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali, pemerintah pernah menggelar seminar pengelolaan sampah bertema “Bali Bebas Sampah Plastik 2013” di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, pada tanggal 25 Mei 2011. Pemerintah juga membuat program Bali Green Province dengan tiga strategi dasar, yakni Green Culture, Green Economy, dan Clean & Green.

Mother and Child 65x75cm spray paint on plastic trash 2013 copy

Mother and Child 65x75cm spray paint on plastic trash 2013

Green Culture bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap manfaat dan dampak sampah. Green Economy diarahkan mendorong partisipasi swasta dan pengusaha dalam pengelolaan sampah. Sedangkan Clean & Green ditujukan untuk mengatasi permasalahan pencemaran dan kerusakan lingkungan yang berdampak  terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Bahkan, di Kabupaten Tabanan, telah beroperasi pabrik pengolahan sampah plastik, yakni PT. Enviro Pallet Bali. Pabrik ini setiap harinya membutuhkan 20 ton sampah plastik, yang diolah menjadi ribuan palet, pot, ember, tatakan barang, dan sebagainya.

The secret of legong 65x75cm spray paint on plastic trash 2013

The secret of legong 65x75cm spray paint on plastic trash 2013

Meski telah ada usaha-usaha pemerintah dan LSM Lingkungan untuk mengelola sampah plastik, namun tetap saja persoalan ini masih sulit diatasi. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kesadaran masyarakat terhadap sampah plastik yang bisa menghancurkan alam dan lingkungan hidup mereka. Di Bali, dengan mudah kita melihat sampah plastik dibuang sembarangan, mencemari pematang sawah, saluran irigasi, selokan, sungai, kebun, hutan bakau, pantai, pegunungan, tebing dan jurang. Tak hanya itu, di gang-gang kota, jalan protokol, pasar tradisional atau tempat umum lainnya, orang membuang sampah plastik sesuka hatinya. Bahkan, sering terlihat orang seenaknya membuang pembungkus plastik dari jendela mobil atau angkutan umum.

Barong and keris dance 75x65cm spray paint on plastic trash 2013 kecil

Barong and keris dance 75x65cm spray paint on plastic trash 2013

Bayak dan Plasticology

Sejak lama persoalan sampah plastik mengusik perhatian perupa Made Muliana Bayak. Perupa tamatan ISI Denpasar ini dikenal intens bergelut dan mengeksplorasi secara kritis isu-isu ekologi, sosial, budaya, kemanusiaan, politik, dalam konteks seni rupa penyadaran. Tak hanya lewat seni rupa, Bayak juga mengritisi isu-isu tersebut melalui musik. Sebagai gitaris, Bayak bergabung dalam kelompok band indie lokal, Simulacra dan Geekssmile.

Bayak menggunakan seni rupa dan musik sebagai sarana dan medium untuk menyampaikan pesan berkaitan dengan isu-isu kontekstual. Misalnya, pada Januari 2012, pameran tunggalnya di Griya Santrian Gallery, Sanur, menyedot perhatian banyak orang. Saat itu, lewat karya-karya bernuansa parodi, dia mengritisi persoalan eksploitasi alam oleh kaum kapitalisme dan neo liberalisme atas nama pembangunan pariwisata di Bali.

The Barong 75x65cm spray paint on plastic trash 2013 kecil

The Barong 75x65cm spray paint on plastic trash 2013

Berpijak dari keprihatinan kurang tumbuhnya kesadaran masyarakat Bali dalam mengelola sampah plastik, Bayak membuat serangkaian proyek seni rupa bertema “Plasticology”, sebuah konsep yang lahir dari paduan kata “plastic” dan “ecology”. Bayak telah memamerkan karya-karya yang diolah dari sampah plastik di Gardenia Café, Sanur, pada Desember 2012. Kini, Bayak kembali menggelar pameran tunggal bertajuk “Plasticology Reissue” di Arys Warung, Ubud. Rencananya, serial karya-karya “Plasticology” akan dipamerkan di berbagai tempat.

Sebelum plastik dikenal, masyarakat Bali menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan. Sehabis makan, pembungkus daun itu langsung dibuang di sembarang tempat dan tentu dengan mudah diurai alam. Namun, kebiasaan membuang sampah tersebut mengendap di alam bawah sadar, dan diwariskan turun temurun. Ketika sekarang banyak makanan dan minuman dibungkus plastik, perilaku membuang sampah masih tetap mengikuti kebiasaan lama. Sampah plastik dibuang sembarangan tanpa kesadaran akan efek negatifnya. Bahkan banyak petani menggunakan sampah plastik untuk alat mengusir burung pipit, dan sisa plastik itu akhirnya mencemari sawah.

Siwanatharaja 35x50cm permanent ink on plastic trash 2013

Siwanatharaja 35x50cm permanent ink on plastic trash 2013

“Jika perilaku membuang sampah tidak segera diperbaiki maka Bali bisa menjadi pulau penuh sampah. Pulau ini rata-rata menghasilkan 10.000 meter kubik sampah setiap hari, tapi lembaga pemerintah hanya dapat memproses 5.700 meter kubik, dan meninggalkan sampah yang tersisa di pinggir jalan atau di tempat pembuangan ilegal. Ini fakta yang sangat menakutkan,” tutur Bayak.

Berangkat dari kesadaran bahwa sampah plastik telah menjadi persoalan yang krusial, Bayak memanfaatkan sampah plastik yang dihasilkan keluarganya untuk karya seni rupa, seperti lukisan kolase dan seni instalasi. Bayak konsisten melakukan hal-hal kecil yang dimulai dari diri sendiri, dan menularkannya pada orang lain. Bersama istri dan anaknya, Bayak setiap hari mengumpulkan sampah plastik di sekitar rumahnya untuk dijadikan karya seni.

sangkakala 35x50cm permanent ink on plastic trash 2013

Sangkakala 35x50cm permanent ink on plastic trash 2013

“Ide ini muncul sejak pameran tunggal pertama saya pada tahun 2008 di Ubud. Ada tantangan besar mengolah sampah menjadi karya seni. Dan, saya berusaha menemukan teknik agar sampah yang dijadikan karya seni tidak kembali menjadi sampah usai dipamerkan,” ujar Bayak.

Dalam konteks wacana Go Green yang dikampanyekan Pemerintah Bali, karya seni dari sampah plastik ini bisa menjadi implementasi paling nyata dari konsep ramah lingkungan. Bayak pun konsisten mempromosikan teknik dan proses kreatifnya melalui pameran seni rupa, workshop di sekolah dan komunitas-komunitas peduli lingkungan. Dalam “Bali Spirit Festival” yang digelar di Ubud, misalnya, Bayak rajin memberikan workshop mengelola sampah plastik menjadi karya seni.

Eternal combat 35x50cm permanent ink on plastic trash 2013

Eternal combat 35x50cm permanent ink on plastic trash 2013

“Di keluarga, saya memberi contoh bagaimana mengelola sampah plastik menjadi karya seni. Anak saya melihat dan meniru saya mengumpulkan sampah plastik di rumah. Sekarang dia sudah bisa memilah sampah dan menyimpannya untuk dijadikan bahan karya seni. Hal-hal kecil seperti ini sesungguhnya bisa dimulai dari diri sendiri dan keluarga,” tutur Bayak.

Propaganda Baru

Dengan teknik kolase dan teknik lainnya, Bayak mengolah sampah plastik dan benda bekas menjadi karya seni yang sekaligus sebagai sarana kampanye isu sampah plastik, sosial serta budaya. Visual yang ditampilkan dalam kebanyakan karya Bayak adalah eksotisme Bali masa lalu, yang sejak zaman kolonial Belanda hingga sekarang terus menerus dipropagandakan demi kepentingan industri pariwisata.

Rajah number I 35x50cm permanent ink on plastic trash 2013

Rajah number I 35x50cm permanent ink on plastic trash 2013

Selain menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di Bali, industri pariwisata juga membawa dampak negatif yang banyak memunculkan persoalan di bidang ekologi, sosial dan budaya. Misalnya, pembangunan sarana pariwisata sering tidak peduli dengan tata ruang Bali, konflik adat dengan investor, konflik batas wilayah desa, profanisasi seni sakral, pencurian benda-benda suci di pura untuk dijual sebagai benda antik, pelacuran dan kafe remang-remang, dan sebagainya.

Propaganda pariwisata yang mengeksploitasi eksotisme Bali telah menutup rapat berbagai sisi gelap dan tragedi yang terjadi di Bali. Sebab turisme hanya suka melihat keindahan dan eksotisme, dan selalu menghindari kenyataan, sisi gelap, dan tragedi yang terjadi di daerah tujuan wisata. Berpijak dari berbagai persoalan itu, Bayak dengan sinis membuat “propaganda baru”, yakni membangun kembali citra eksotisme Bali dari puing dan serpihan sampah plastik. Visual karya-karya “Plasticology” yang sarat pesan ini merupakan sindiran dan parodi tentang Bali yang terlalu mendewakan industri pariwisata. Semoga pecinta seni rupa mampu menangkap pesan yang ingin disampaikan Bayak lewat karya seni dari sampah plastik ini. ***

*Penulisa adalah lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Pernah studi seni lukis di ISI Denpasar.

concept number I 30x40cm acrylic paint on paper and ink on bubble plastic 2013 copy

Concept number I 30x40cm acrylic paint on paper and ink on bubble plastic 2013

concept number II 30x40cm acrylic paint on paper and ink on buble plastic 2013 copy

Concept number II 30x40cm acrylic paint on paper and ink on bubble plastic 2013

concept number III 30x40cm acrylic paint on paper and ink on buble plastic 2013 copy

Concept number III 30x40cm acrylic paint on paper and ink on bubble plastic 2013

Plasticology and Exoticism in Bali

By: Wayan Jengki Sunarta*

Since the invention of plastic in the early twentieth century, this material has been a practical, pragmatic, and cheap commodity serving hundreds of purposes. But behind its advantages, plastic has also spread terror, horror, anxiety, disease, and the destruction of nature. Ground soil takes thousands of years to biodegrade plastic. When it is burned, the smoke poisons the air and our lungs. Unimagineably, Styrofoam,  that ubiquitous substance used to package food waste, causes cancer when burned, and it cannot be broken down in nature. To this day, plastic waste continues to wreak ecological havoc at the local, regional, national, and international levels.

In Bali, plastic waste management was made a special agenda for Bali’s provincial government. On May 25, 2011, under the auspices of the Environment Agency of Bali (BLH), the government held a waste management seminar entitled “Plastic Waste-Free Bali 2013” in the Ksirarnawa Building, Taman Budaya. The government also created the “Bali Green Province,” guided by three basic campaigns, namely “Green Culture,” “Green Economy,” and “Clean & Green.” Green Culture aims to increase understanding and awareness of the impacts and potential uses of waste. Green Economy aims to encourage entrepreneurs and the private sector to participate in waste management. Finally, Clean & Green is intended to overcome the problems of pollution and environmental damage affecting the socioeconomic vitality of the community. For example, in the Tabanan regency, the plastic waste processing plant PT. Enviro Pallet Bali processes 20 tons of plastic waste plastic per day, which is converted into pallets, pots, buckets, pallet goods, etc.

Although there have been efforts by the government and environmental NGOs to manage plastic waste, the problem is difficult to overcome. One reason for this is the lack of public awareness on how plastic waste can destroy the natural environment. In Bali, one frequently witnesses the careless disposal of plastic waste, which then contaminates the rice fields, irrigation canals, ditches, rivers, gardens, mangroves, beaches, mountains, cliffs and ravines. Furthemore, in the alleys, main thoroughfares, traditional markets, and other public spaces of the city, people dispose of plastic waste anywhere they please. Many people casually discard plastic wrappings from public transport or car windows.

Bayak and Plasticology

For some time, the problem of plastic waste has provoked the attention of artist Made Muliana Bayak.

Bayak, who graduated from ISI Denpasar, has gained a reputation for intensely wrestling with and critically exploring ecological, social, cultural, humanitarian, and political issues—all within the context of art. His explorations include not only visual art, but also music. As a guitarist, Bayak has shaped local indie bands Simulacra and Geekssmile.

Bayak uses art and music as means and media to convey messages related to specific contextual issues. His solo exhibition at the Griya Santrian Gallery, Sanur on January 2012, which gained significant public recognition, serves as an example: Through the medium of nuanced parody, Bayak criticized the exploitation of nature by capitalism and neo-liberalism, in the name of tourism development in Bali. On the basis of the increasing awareness of Balinese about the need for plastic waste management,

Bayak has created a series of art projects themed “Plasticology,” a concept that fuses the words “plastic” and “ecology.” Bayak premiered this series, which is based on mixed media pieces composed of plastic waste, in Gardenia Cafe, Sanur in December 2012. Now, Bayak launches a solo exhibition titled “Plasticology Reissue” at Ary’s Warung, Ubud. His future plan is to display other works within the “Plasticology” series, in other exhibit settings.

Before plastic was a common commodity, Balinese used banana leaves as food wrappers. After eatingnthe meal inside, they would immediately discard the wrapper leaves anywhere, and the organic waste would return to nature. Such littering habits settled into the Balinese subconscious and were handed down for generations. Now, although most food and beverages are served in plastic, littering continues to follow these old customs. The careless disposal of plastic waste has had dramatic negative effects and impacted many aspects of daily life. For example, many rice farmers use plastic rubbish to repel sparrows from their fields; the fallen remnants eventually contaminate the entire paddies. “If this sort of littering behavior is not changed soon, the entire island of Bali will be full with garbage,” says Bayak. “The island produces an average of 10,000 cubic meters of waste per day, but government agencies can only process 5,700 cubic meters. Much trash is left on the curbs or in illegal dumps. This fact is really alarming.”

With the realization that plastic waste is a critical problem as his point of departure, Bayak utilizes the plastic waste generated by his own family to create works of art, including painting collages and installation pieces. Bayak beliefs strongly that such small actions, starting with himself, have the potential to influence others. Everyday, with the help of his wife and son, Bayak collects the plastic waste around his house to be used in his artwork.

“The idea first arose with my first solo exhibition in Ubud in 2008. There was a challenge to transform waste into works of art. I tried to find a technique that would allow the rubbish to remain as artwork,even after the exhibition concluded,” explains Bayak.

In the context of the “Go Green” discourse, campaigned by the government throughout Bali, artwork from plastic waste could be the most obvious implementation of an eco-friendly concept. Bayak has consistently promoted this technique and creative process through art exhibitions, workshops in schools, and various collectives concerned about the environment. For example, during the Bali Spirit Festival in 2013, Bayak provided daily workshops and live painting activities, demonstrating how to turn plastic waste into works of art.

“Within my family, I set an example for how to manage plastic waste by making works of art. My son sees and emulates me by collecting plastic waste in our home. Now, he is able to sort the garbage and set aside that which can be used for artwork. Little things like this can actually just start with an individual and his family,” says Bayak.

New Propaganda

But Bayak’s works not only contribute to discourse on plastic waste management; they also provide social and culture commentary. The icons displayed in his work evoke Bali’s exotic past which, from the Dutch colonial era to the present day, are exploited by the cultural propaganda of the tourism industry. In addition to being one of the biggest contributors to waste in Bali, the tourism industry has also negatively impacted the overal ecological, social, and cultural health of the island. The construction of tourism facilities often proceeds with no regard for Balinese spatial concepts or needs. The result: custom is ignored by tourism investors, village boundaries are violated, sacred art is rendered profane— as sacred objects of the temple are sold as collectible antiques—and prostitution in dimly lit cafes proliferates the island.

Tourism propaganda that exploits and exoticizes Bali has also ignored its dark side and the many tragedies of Bali. Because tourism only benefits from the image of Bali as a beautiful paradise, it must always avoid reality—including the dark and tragic events that have occurred at some of the island’s most popular tourist destinations. Related to such issues, Bayak cynically constructs “new propaganda,” chiefly to rebuild the image of exotic Bali from plastic debris. The visual works of “Plasticology” are laden with messages of satire and parodies of a Bali overidolized by the tourism industry. Hopefully, art lovers will comprehend the message conveyed by Bayak’s artworks of waste. ***

*Sunarta is a graduate in Cultural Anthropology, Faculty of Letters, Udayana University.

He has also studied painting at the Indonesian Institute for the Arts (ISI) Denpasar.

Translation by Rebeka Moore

Arm our Family

August 22, 2012

Arm our Family

Pendidikan harusnya membuat kita lebih kritis, peduli dan berpijak pada kebenaran, sama dengan seni dan seniman seharusnya kritis dan mengungkapkan tentang nilai-nilai kebenaran

Made bayak, Tan Malaka 65x75cm spray paint on plastic trash 2012

Seni rupa (lukis) merupakan wilayah kecil dari wacana besar kesenian yang meliputi berbagai ragam jenis, dari seni lukis ini saya belajar banyak tentang nilai-nilai dalam menjalani kehidupan, pernah menjadi sangat nihilistic, pesimis yang mungkin sangat tipis bedanya dengan sifat malas, karena semuanya salah, tapi tidak pernah melakukan apa-apa. dan dari seni lukis ini juga saya ingin berbagi dengan kawan-kawan tentang mimpi, hasrat dan harapan akan sebuah perubahan disemua bidang termasuk dalam keluarga kecil saya. Seni lukis yang mempertemukan saya dengan istri sekarang ketika menempuh studi diprogram seni rupa murni ISI Denpasar, dan seni lukis ini juga yang menjadi salah satu media pendidikan terhadap anak saya, sekaligus menjadi media berbagi dengan anak-anak dan komunitas lainya. Dengan seni saya memperlihatkan dan menanamkan kepada anak hal yang paling sderhana, untuk tidak membuang sampah sembarangan dan juga bagaimana dengan seni kita bisa memanfaatkan sampah yang ada, seperti trash art project yang sedang saya kembangkan saat ini, dari proses itu secara tidak langsung saya memanamkan sikap kreatif untuk mengolah gagasan dalam berkarya rupa.

Damar Langit Timur, barong and rangda 40x50cm marker and paint on canvas 2010

Seni rupa/lukis adalah salah satu media untuk mengungkapkan imajinasi , ide dan gagasan tentang berbagai hal, dari yang paling sederhana sekali, sampai yang berjejal dengan konsep, kutipan-kutipan filsafat dan buku seni. Ada yang mencari esensi dari seni itu sendiri, namun banyak juga yang meyakini seni itu bisa membuat sebuah perubahan dalam berbagai hal, termasuk saya salah satunya adalah yang mempunyai keyakinan seni seharusnya bisa lebih “berguna” bagi lingkungannya.

Exspresi seni anak-anak adalah yang paling murni, mereka menggambar apa yang terekam dalam pikirannya tanpa pretensi apa-apa, hanya sebagai ungkapan kesenangan akan sebuah wujud tertentu, kepekaan visual adalah hal yang sangat penting selain kepekaan oral dalam perkembangan anak, ketika ingin menceritakan sesuatu yang berkaitan dengan hal yang disukai, coretan atau gambar bisa mejadi sarana menumpahkan itu.

Keliaran imajinasi itu seharusnya diperihara dan dibiarkan tetap liar, biasanya anak ketika mengenal sekolah pada umumnya mendapatkan pendidikan lukis atau yang belajar di sanggar lukis yang banyak brjamuran skarang, umumnya mereka akan menjadi seragam, baik itu bentuk dan gaya lukisan, komposisi, warna dan proses kreatif yang mereka jalani, lagi-lagi terjadi penyeragaman kreativitas.

Bahasa visual juga bisa menjadi sangat idiologis dan politis, tentunya kita semuanya ingat semasa SD dulu setiap mendapatkan pelajaran melukis pasti yang divisualkan adalah image dua buah gunung, kadang-kadang membuatnya pun menggunakan penggarisan supaya lebih rapih, dibalik gunung muncul matahari yang bersinar terang, dari gunung ada jalan raya lengkap dengan tiang listrik dengan perspektif ala kadarnya, satu atau dua buah mobil sedang melintas, di sebelah kiri kanan ada persawahan yang mulai ditanami padi, dan beberapa batang pohon kelapa. Siapapun yang berani berkreatifitas diluar pakem-pakem tadi sudah bisa dipastikan akan mendapatkan nilai yang jelek, Itu ternyata terjadi diseluruh Nusantara. Jaman itu memang sangat ketat sekali dilakukan kontrol terhadap masyarakat oleh rezim yang sedang berkuasa, sampai materi pelajaran sejak dini pun sebisa mungkin jangan ada yang bernuansa kritis terhadap realita yang sebenarnya, sampai sejarah pun dibelokan menjadi versi penguasa dan itu terjadi dalam kurun waktu 32 tahun lebih bahkan kerena banyak yang terllibat dalam konspirasi itu hingga saat ini pun ketika reformasi hampir 16 tahun terjadi masih ada banyak kasus yang sengaja tidak dibiarkan untuk terungkap.

made bayak, Occupy our mind 65x75cm spray paint on plastic trash 2012

Ketidaksiapan tenaga pengajar kesenian khususnya seni rupa juga menjadi persoalan, dimana guru yang notabene berlatar belakang ilmu pasti didapuk  untuk mengajar kesenian juga. Jadi apresiasi anak tidak terasah dari kecil, jadi jangan heran jika generasi kita tidak menghargai budaya dan kesenian mereka sendiri dan lebih condong sangat terbuka tanpa sikap kritis dengan trend budaya yang dianggap keren dan datang dari Eropah dan Amerika. Salah satu contoh saat budaya J-rock dan K-Pop (Japan rock dan Korean pop) kita tidak pernah mempelajari bagaimana mereka mempersiapakan itu selama 15 tahun sebelum menjadi trend seperti sekarang, kita disini hanya menirunya maka jadilah bangsa pengekor dan ekor biasanya tidak pernah menjadi kepala.

“Mengertilah dunia anak, karena orang dewasa sudah pernah menjadi anak, sedangkan anak belum pernah menjadi orang dewasa” kutipin ini memang benar sekali namun sangat sulit untuk dilaksanakan oleh para orang tua atau orang dewasa, selalu saja kita orang dewasa ingin menuruti ideal kita yang belum tentu sesuai dengan anak, kita selalu melihat sesuatu itu dari sudut pandang diri sendiri.

Arm our family, ide dasarnya dari teks yang terdapat dalam gitar Tom Morello gitaris dari Rage Against the Machine, sekaligus dia namai gitar itu Arm the Homeless. Makna yang terkandung dalam teks itu sangat dalam, walau sepintas sangat provokatif dari segi bahasanya. Jika diartikan dalam bahasa kita akan bebermakna: persenjatai para tunawisma, yang tak bertanah, masyarakat bawah, orang tertindas, sebut saja lainya, namun jika ditelisik lagi makna persenjatai itu adalah bukannya memberi mereka memegang senjata dan memberontak/berperang, namun persenjatai semua orang-orang itu dengan pendidikan yang baik, pendidikan politik yang baik membuat kita sadar dengan hak dan kewajiban politik kita dan nantinya akan membuang ke laut sistem dan praktek politik kapitalis nan culas seperti yang terjadi hari ini, yang hanya mementingkan kelompok dan golongan mereka sendiri.

Pendidikan sosial yang bertanggung jawab, sehingga kita tidak menjadi masyarakat individualistik yang konsumtif yang menyebabkan kita malas berfikir, sedemikian kompleksnya permasalahan hari ini, namun seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Pendidikan budaya yang luas, seluas wilayah Indonesia ini, sehingga kita tidak lagi berfikir saya orang Bali berbeda dengan orang Jawa, Sumatra, Kalimantan, Irian Jaya dan lainya, budaya kita beragam bahkan sangat beragam, seharusnya terbentuk pola fikir dalam benak setiap orang Indonesia bagaimana itu menjadi kemajemukan yang mempercantik bangsa ini.

Dan yang terakhir pendidikan agama, seharusnya ini menjadi tidak terlalu penting dibahas karena sangat individual sifatnya, namun menarik dibicarakan karena agama dan kepercayaan ternyata menjadi masalah utama di negeri ini, penyebab terjadinya banyak konflik dan Negara ternyata belum menjamin kebebasan rakyatnya untuk urusan dengan sang penciptanya.

Kartika Dewi, men brayut 90x90cm acrylic on canvas 2012

Arm our family mempunyai makna “persenjatai” keluarga kita masing-masing, dengan pendidikan yang holistik, pendidikan yang bukan hafalan, pendidikan yang tidak tercerabut dari situasi sosial, budaya, minat dan bakat setiap benih yang hidup di negeri ini. Pendidikan yang paling sederhana dan kecil dalam lingkup keluarga sendiri, membuang pemikiran kolot yang menghambat perkembangkan, dengan tetap menghargai nilai-nilai luhur yang diwariskan, bukankah keluarga adalah bentuk kecil dari komunitas yang membentuk Negara? Jadi perbaikan Negara ini bisa dimulai dari keluarga, bahkan dari diri kita sendiri, dengan cara lebih kritis terhadap berbagai hal, saling berbagi  dan memberikan pendidikan yang baik bagi setiap generasi penerus masa depan. Atau terjun dan membentuk dalam sebuah inisiative dibidang pendidikan atau lainya yang memberikan solusi atas persoalan yang sedang dihadapi dalam suatu komunitas. Seni rupa hanyalah salah satu bidang kecil, banyak bidang dan profesi lainya jika dijadikan “senjata” akan sangat bermanfaat bagi keluarga sendiri dan tentunya sedikit bisa berbagi dengan komunitas yang lainya.

Damar Langit Timur, Orangutans 60x80cm acrylic on canvas 2012

Pameran ini akan memajang karya-karya lukis dari made bayak, istri saya Komang Kartika dan anak saya Damar Langit Timur. Karya saya masih pada gagasan tentang berbagai persoalan yang sedang terjadi di Bali, masalah sosial, budaya, politik dan lainya sudah banyak dibicarakan seblumnya. Dalam karya ini ada bayangan yang paling buruk tentang tanah ini jika kita semua tidak memperbaiki sikap dan pola fikir kita, julukan Bali yang menjadi sorga yang hilang bisa benar-benar menjadi kenyataan dan tentunya kita semua tidak mengingikan hal yang terburuk terjadi bukan? Harapan akan munculnya sebuah solusi dari semua permasalahan masih tetap ada dan semoga harapan tidak hanya sekedar harapan semu. Sedikit solusi dari bidang seni saya coba tawarkan, tidak hanya dalam gagasan tapi dalam praktek dengan memanfaatkan sampah plastik sebagai media dalam berkarya, menggunakan konsep reuse, reduce dan recycle sebagai konsep yang ampuh dalam “melawan” konsep materialisme dan konsumerisme dimana kepemilikan barang-barang baru menjadi ukuran yang utama dan salah satu masalah utama di pulau kecil ini adalah sampah, budaya dalam masyarakat kita belum mempunyai konsep daur ulang sampah. Mungkin ini tidak memberi solusi secara signifikan terhadap penanggulangan masalah sampah, tapi setidaknya memberi wacana lain dari cara melihat permasalahan dan menemukan solusinya.

Saya sendiri tidak pernah memaksakan anak saya untuk menggambar, saya sadar ketika mengamati kesukaanya mencoret-coret  tembok kamar, dapur sampai toilet, bahkan kadang karya lukisan saya tidak luput dari proses vandal-nya. Namun sayang juga jika potensi yang sudah ada tidak dimaksimalkan, dengan cara memfasilitasi si anak sehingga bakatnya bisa terasah dengan maksimal.

Umur 2 tahun Damar sudah bisa memvisualkan binatang yang dia maksud, entah kenapa dia suka sekali dengan babi, binatang itu kerap muncul dalam coretan-coretanya sejak awal, kuda juga menjadi binatang favorit selain sapi dan kerbau, kemudian muncul ketertarikan dengan barong, ranggda, celuluk dan mahluk mitilogi Hindu Bali lainya, ogoh-ogoh juga,  sekarang lebih rumit lagi, dia sukanya sudah mulai sambil bercerita dan menangkap pengalaman dia ketika pergi kesuatu tempat, kemudian sampai di rumah minta buku gambar dan memvisualkan apa yang dia lihat dengan bahasa visual khas anak-anak.

Damar Langit Timur, ogoh-ogoh 40x50cm marker and paint on canvas 2010

Istri saya dasarnya adalah sama, dia lulusan pendidikan seni di ISI Denpasar, namun 3 tahun belakangan ini sangat jarang sekali berkarya, sesekali berkarya hanya untuk pameran bersama. Karya-karyanya dari awal memang mmpersoalkan masalah perempuan entah itu sebagai target konsumerisme, konsep cantik itu harus sesuai dengan yang ada di majalah atau televisi, ramping, kulit putih dan standar lainya yang dilabelkan. Karya yang sekarang lebih pada peran perempuan Bali, sebagai ibu yang bukan hanya bertugas melayani suami tapi tugasnya juga dalam memberikan pendidikan bagi anaknya, bagaimana perempuan Bali yang selalu disibukan dengan ritual yang mau tidak mau harus dijalankan apalagi kemudian dia menikah dan menghadapi situasi dan kondisi baru di rumah suaminya, menghadapi mertua dan keluarga dari suaminya. Dengan momen pameran ini saya ingin mendorong kembali dia untuk berkarya, bukan untuk siapa, tapi untuk menunjukan kepada putra kami bahwa kesenian khususnya seni rupa itu adalah hal yang menarik selain semua ilmu humanora yang dia dapatkan nantinya di sekolah, kata pintar atau cerdas itu adalah jika seseorang unggul dalam bidang matematika, kimia dan lainya, budaya dalam masyarakat kita tidak pernah mengapresiasi bakat seseorang dibidang seni padahal seni itu paling dekat dengan keseharian. Dengan seni kita bisa melakukan banyak hal untuk dunia ini, entah nantinya dia mau mengikuti jejak orang tuanya atau tidak, namun setidaknya dia punya kepekaan, ketrampilan dan kepercayaan diri dalam menantang kehidupan ini.

Kartika Dewi, ibu dan anak 90x90cm acrylic on canvas 2012

Semoga semakin banyak keluarga yang memahami pentingnya pendidikan karakter sehingga tercipta sebuah generasi yang tidak apatis dan ignorance dengan keadaan di sekeliling mereka, generasi yang mampu memaksimalkan potensi diri dan menyerap semua permasalahan ditempat dimana mereka berada sehingga selalu mampu memberi solusi bagi setiap permasalahan yang muncul, entah itu mereka mau jadi pelukis, pemusik, penyair, penulis, perancang busana dan profesi apapun itu. (Made bayak adalah seorang suami, seorang ayah, volunteer di Sanggar Anak Tangguh dan seniman visual dan gitaris dari band indie geekssmile)

English version

Arm our Family

“Education should make us more critical, caring and grounded in truth, together with arts and artists should be critical and revealing about the true values”

Kartika Dewi, gadis bali 50x60cm acrylic on canvas 2012

Fine arts (painting) is a small region of the discourse of art covering a wide range of diverse types, from visual arts I learned a lot about values ​​in life, was once a very nihilistic, pessimistic that the difference may be very thin with a lazy nature, because everything wrong but never do anything. and from this visual arts I wanted to share with my friends about the dreams, desire and hope for a change in all areas including in my small family. Visual arts that bring me to my wife now, we meet when we studying fine art programmable at Institute of Art in Denpasar, and with these visual arts also are the one medium of education for my children, as well as a media to share with childrens and other communities. With my arts I show and instill in my kid the most simple thing, for not being ignorance and littering anywhere and also how we can utilize the art of existing waste, such as trash art project that I’m developing today, of that process are directly showing my attitude to cultivate creative ideas in a way to work.
Fine arts / painting is one of the media to express imagination, ideas and thoughts about various things, from the simplest one, until the jam-packed with the concept, philosophy and quotations art book. Anyone looking for the essence of art itself, but many also believe that arts can make a change in a variety of things, including me is one of them, I belief that art should have a more “useful” for the environment.
Children’s art expressions are the most pure, they draw what is recorded in his mind without any pretensions, just as an expression of a particular form of pleasure, visual sensitivity is a very important addition to oral sensitivity in child development, when they want to tell you something related to things like, graffiti or pictures that could form the tool shed.

Damar Langit Timur, Bapang barong 50x60cm water color on paper 2011

Their wild imaginations it should be kept wild, usually when the childrens get to know the school in general education or studying painting in the studio painting that many today, in generally they will be same, whether it’s shape and style of painting, composition, color and the creative process which they live, again, there uniformity of creativity.
Visual languages ​​can also be highly ideological and political, of course, we all remember during the primary school had a class every painting is definitely a visualized image of two mountains, sometimes even using hatching to make it more neatly, up the mountain behind the sun shining brightly, from there is a complete mountain road with electricity poles with rudimentary perspective, one or two cars are passing, on the left right there from rice paddy fields, and some palm trees. Anyone who dared to creativity out of the grip had been certain to get bad grades, That is exactly what happened throughout the archipelago. That time was very strict control of society made by the regime in power, until early on any subject matter as much as possible so that no critical nuances of an actual reality, until the history has been turned into versions of the ruler and it happened within 32 years even because they are many peoples joint in the conspiracy until now, even when reforms almost 16 years there still exist many cases deliberately not allowed to unfold.
Unpreparedness of teachers of art, especially arts is also an issue, where teachers are in fact lined up a science background to teach the arts as well. So do not honed appreciation of small children, do not be surprised if our generation does not appreciate their own culture and the arts are very open and more inclined to uncritically with cultural trends that are considered cool and come from Europe and America. One example of the culture at J-rock and K-Pop (Korean pop and Japan rock culture) we never learn how they are preparing it for 15 years before becoming a trend as of now, we are here only to imitate them, usually the imitators only become the tail never  be a head.

Kartika Dewi, permpuan bali triptich @33x15cm acrylic on wood 2012

“Understand the world of children, because adults have been a child, while kids have never become an adult” this quote is true but it is very difficult to be implemented by the parents or adults, we always want to keep the ideal that we believe, we have not necessarily correspond with the kids, we always see things from the point of view of ourself.
Arm our family, the basic idea of ​​the text contained in the guitar of Tom Morello of Rage Against the Machine guitarist, as well as he calls it Arm the Homeless guitar. Meaning contained in the text is very deep, though seemingly very provocative in terms of language. If interpreted in the language it will mean: armed the homeless, the landless, the community, the oppressed, others call it, but if examined more armed meaning it is instead of giving them a gun to rebellion / war, but armed all the peoples with a good education, good political education to make us aware of our political rights and obligations and will be dumping into the sea all capitalist system and the political practice of and deceitful as it happens today, which is only concerned with their own groups and parties.
Responsible social education, so we do not become a consumer and individualistic society that causes us to lazy to think, in such complex problems of today, but it look everything is okay.
Broad cultural education, an area of ​​Indonesia, so we no longer think differ with I’m a Balinese different with people of Java, Sumatra, Kalimantan, Irian Jaya and the other, our culture is very diverse range even, we should form a mindset that Indonesia as an nation and in everyone’s mind how it a plurality of beautifying the nation.
And the last, religious education, this should not be too important to be discussed because it is very individual in nature, but interesting because it talked about religion and belief turned out to be a major problem in this country, the cause of many conflicts and the State has yet to guarantee the freedom of people to deal with their creator.
Arm our family has the meaning of “armed” our respective families, with a holistic education, rather than rote education, education without cut off from social situations, cultures, interests and talents of every seed that live in this country. Education is the most simple and small in the scope of our own family, throw an old-fashioned idea that inhibit the progress, while appreciating the noble values ​​that are passed, isn’t a family is a small form of the communities that make up the country? This country need more strong generations, so repairs it can be started from the family, even from ourselves, in a way more critical of things, sharing and giving good education to every future generation. Or plunge and formed in a field of education or other initiative that provides a solution to the problems being addressed in a community. Fine art is just one small area, many other fields and professions if used as “weapons” will be very beneficial to his own family and of course a little to share with other communities.

Damar Langit Timur, orangutan pose 50x60cm acrylic on canvas 2012

The exhibition will display paintings of Made Bayak, my wife Kartika Dewi and my son Damar Langit Timur. My work is still in the idea of ​​the problems that are happening in Bali, social, cultural, political and others have talked about  before. In this work there is a shadow of the worst on this earth and this island if we all did not improve attitudes and our mindset, no dubbed the Bali paradise lost could actually become a reality, and of course we all do not want a worst thing that happens is’t it? Hope for the emergence of a solution of all problems still exist and may hope not only false hope. A little solution in the field of art I try to offer, not only in ideas but in practice by utilizing waste plastic as a medium in my art, using the concept of reuse, reduce and recycle as a powerful concept in the “fight” the concept of materialism and consumerism where the ownership of new goods stuff be the size of the primary and one of the main problems in this small island is rubbish, the culture in our society do not have the concept of waste recycling. This may not provide the solution significantly to overcoming the problem of garbage, but at least give another discourse of how to see problems and find solutions.
I myself have never forced my children to draw, I realized when watching he scribble on the walls of the room, the kitchen to the bathroom, and even sometimes my paintings are not spared from its vandal process. But unfortunately also if the existing potential is not maximized, by facilitating the child so that his talents can be honed to the maximum.
On his age of 2 years Damar is able to visualize the animals that he meant, for some reason he really loves the pig, the animal often appeared in his sketch  from the beginning, the horse is also a favorite animal other than cattle and buffalo, then comes the interest to the Barong, Ranggda, Celuluk are mitological creature in Hindu Bali believe and other creatures like ogoh-ogoh (a large monsters figure during the pengerupukan day) also, now more complicated, he started to tell me joy, and capture the experience during we gone somewhere, and then came home and asked for a sketch book to visualize what he saw with a distinctive visual language of the children.

Made Bayak, Ni Luh Camplung 65x75cm spray paint on plastic trash 2012

My wife is basically the same, she graduated from art education at Institute of Art in Denpasar, but 3 years she very rare work in painting, occasional work only for the group exhibition. His works from the outset it talk about matter whether it’s women as a target of consumerism, it’s a beautiful concept should correspond to those in the magazines or television, slim, white skin and other standards are labeled. The work now more on the role of Balinese women, as mothers are not only in the service of her husband but also her duty to provide education for their childrens, how Balinese women are always busy with the rituals that would not want to run let alone, then he married and facing new situations and conditions in her husband’s house, face her mother in-law and family of her husband. With this exhibition the moment I want to push her back to paint, not for anyone, but to demonstrate to our son especially art that is an interesting thing and it same with other knowledge, many people think that smart or intelligent kids if they only good in mathematics, chemistry and others, the culture in our society never appreciate a person’s talent in arts, whatever art is closest to the everyday life here. With art we can do many things for this world, whether he will want to follow in the footsteps of his parents or not, but at least he had the sensitivity, skills and confidence in challenging life in the future.

Damar langit Timur, the barong and rangda 90x70cm acrylic on canvas 2011

Hopefully more families who understand the importance of character education so as to create a generation of apathy and ignorance are not the circumstances surrounding them, the generation that is able to maximize our potential and absorbing all the problems in the place where they are located so it is always able to provide solutions for any problems that arise, either that they want to be painters, musicians, poets, writers, fashion designers and the profession whatever. (Made Bayak is a husband, a father, a volunteer at Sanggar Anak Tangguh, visual artist and guitarist of indie band geekssmile)

Made Bayak, exotisme gadis Bali 65x75cm spray paint on plastic trash 2012

Opening exhibition