Posts Tagged ‘Art’

Plasticology session with Bali life foundation

September 16, 2015

11th of September 2015 at Kuta with children from Bali life foundation ‪#‎plasticology‬ art project workshop session, let’s create art using plastic waste ‪#‎CteativityLimitless‬ ‪#‎ArtAndEducation‬ ‪#‎BaliArt‬ ‪#‎ActNow‬

IMG_7154

IMG_7110

IMG_7112

IMG_7114

IMG_7123

IMG_7129

IMG_7132

IMG_7135

IMG_7139

IMG_7143

Found object and ready made art

September 1, 2015

These art works with small size using found object and ready made, it using computer part, toys part, natural fiber leaf and debris from beach around Bali and i assamble it became new object and has their own contects.

IMG_6546

IMG_6541

IMG_6540

IMG_6539

Ni luh camplung 45x55cm acrylic on natural leaf fiber 2015

natural fiber leaf

Three Budha heads 45x55cm acrylic on natural leaf fiber 2015natural fiber leaf

fire 45x55cm acrylic on natural leaf fiber 2015natural fiber leaf

IMG_6538

IMG_6536

IMG_6535

IMG_6534

IMG_6533

IMG_6532

1 rock god, 2 artists, 3 educators – meet Bali’s environmental pioneeers

January 7, 2015

An interview on InBali check the link bellow

http://www.inbali.org/bali-environmental-concerns/

<a href=”http://www.inbali.org/”><img alt=”In Bali: activities, travel tips”  src=”http://www.inbali.org/badges/in-bali.jpg&#8221; border=”0″></a>

inBali

IMG_1645The making of 2meter model Blue whale sculpture made out of plastic trash in collaborate with Coral Triangle Center Sanur

CTC Logo(1)

IMG_1646

IMG_1655

IMG_1596

IMG_1613

IMG_1614

IMG_1630

IMG_1621

IMG_1623

Happening art Bali tolak reklamasi

November 25, 2014

Some documentation from some friends, Anggara, Roberto, Dony and etc, i got it from facebook and twitter from the Bali tolak reklamasi art event at Padanggalak beach at 19th of October 2014, here i put video link from Roberto aria putra and Erict est

IMG_0756

IMG_0834

IMG_7507

IMG_7508

IMG_7509

IMG_0680

IMG_0720

B0UJjdyIIAAvxRQ

10341687_550139361797108_2580196482077453399_n

B0XEHJrCMAAC-hI

B0xZ-quCYAA94fJ

B0eKtVZCIAAzD6X

B0W4-SuIAAA3TOe

B0VG_fjCIAAqRgo

B0URBhBIcAAJ5OF

B0UOpdSIEAEKSqz

from the Plasticology opening night

August 10, 2014

3rd of August 2014 the opening night for my plasticology art project showcase, after we collecting plastic trash on the beach around Padangbai, I bring it some in to the gallery as an installation (we collect much more actually than that picture) so visitors of the showcase can imagine what the real situation around this small island of gods.

IMG_9013

 

IMG_9030

 

IMG_9025

 

IMG_9023

 

IMG_9020

 

IMG_9018

 

IMG_9017

 

IMG_9014

 

IMG_9012

 

IMG_9011

 

IMG_9010

 

IMG_9008

 

IMG_9007

 

IMG_9005

 

IMG_9004

 

IMG_9000

 

IMG_8998

 

IMG_8986

 

IMG_9031in the end, i playing some eclectic music….cheers

Tha making of natural colour

April 22, 2014

Natural color workshop on 22nd of April 2014 at Pelangi school, we try to use many kind of fruits, flowers and leaf to creat our own color.  As part of introduction session to children, before the chemical color came as we all know nowday, peoples used and create their own color, they use it for fabric but in Bali we can found they using it for classical wayang kamasan panting technique at Kamasan, Klungkung regency.

 

IMG_7646

 

IMG_7641

 

IMG_7672

 

IMG_7670

 

IMG_7660

 

IMG_7680

 

 

IMG_7681

 

IMG_7696

 

IMG_7692

Monster who drain the underground water

January 2, 2014

Monster who drain the underground water 100x100cm acrylic paint on canvas 2013Monster who drain the underground water 100x100cm acrylic paint on canvas 2013

setiap tahun hampir 1000 hotel/villa dan sarana pariwisata lainya dibangun di Bali….mereka hampir semuanya mengambil air dari dalam tanah….dalam kurun waktu 10tahun ketersediaan air bersih di Bali turun drastis, sementara sumber-sumber air yang ada juga tidak luput dari eksploitasi, beberapa sumber air diprivatisasi, diolah jadi air kemasan dan celakanya kita MEMBELINYA, sementara botolnya yg dari plastik kita buang sembarangan….bayangkan 30tahun kedepan!..selamat datang AGAMA TIRTHA!

apa lagi mau reklamasi seluas 800hektar lebih di kawasan Benoa, membangun semua sarana wisata yang direncanakan, dimana mereka mau mencari air bersih? harus ngebor lebih dalam lagi untuk mendapatkan sumber air….sementara itu bapak dan ibu kita di kampung selalu mengeluh sawahnya yang masih tersisa kering dan air PDAM mengalami mati bergilir…ini kenyataan bukan adai-andai lagi!!!!!

River Clean Up (loloan)

October 6, 2013

Picture 174

Picture 166

Global Initiatives Networking (GIN) 2013
Activity Name: River Clean Up (loloan)
Location: Padang Galak
Date: GIN Youth Conference BALI 05th of October 2013

Activity Overview:
Students will begin the activity with a walk (5-10 minutes along the beach) to the mouth of the Ayung River. From there we will take a look at the amount of trash that the river has brought to the sea and discuss how and why it got there and what will happen to it now that it has reached the ocean. After doing a cleanup activity, the debris will be sorted and analyzed for its affect on marine ecology. This information will be uploaded to Teac Wild’s marine debris identification database.

Aims and Goals:
Students will be able to understand the amount of debris that ends up in our oceans and answer the questions; What type of debris? How does it get there? How long will it stay? How does it affect marine life? How does it affect humans?
Students will be able to create strategies for reducing their use of plastic and educating others about the need to do the same.

Teacher: Glenn Chickering
Activity Leaders: Made Bayak and Lee Middleton
school kids: Green school, Cangu school, sekolah Diatmika dan Sanggar Anak Tangguh.

Picture 079 Picture 075 Picture 071 Picture 062
Picture 083 Picture 088 Picture 090 Picture 093 Picture 108
Picture 122 Picture 127 Picture 128 Picture 138 Picture 139
Picture 141 Picture 143 Picture 148 Picture 149 Picture 151

industry, hidden history and legacy the island of the gods

September 28, 2013

made bayak-industry hidden history and legacy the island of the gods-mixed mediaIndustry, hidden history and legacy of the island of the gods 125x245cm mixed media on plywood

Karya ini adalah persembahan saya untuk tanah kelahiran saya Bali, hari ini banyak persoalan yang dihadapi Bali sebagai destinasi wisata, budaya dan orang-orang Bali-nya sendiri.

Pariwisata seperti pedang bermata dua, disatu sisi memberikan dampak yang bagus bagi perkembangan masyarakat Bali. Namun disisi lain menjadi bencana bagi nilai-nilai budaya lokal yang semakin tergerus seiring pesatnya pembangunan. Dan dampak bagi lingkungan lebih parah lagi, ketika tidak ada perencanaan dan kontrol yang kuat dari segenap masyarakat dan pemerintah.

Banyaknya alih fungsi lahan pertanian produktif untuk pembangunan fasilitas pariwisata yang sebenarnya tidak perlu, fasilitas yang ada sebenarnya masih cukup, namun karena besarnya minat investor untuk membangun membuat berjamurnya pembagunan private villa dan hotel. Disamping itu pariwisata telah memabukan masyarakat Bali, terutama generasi mudanya, dimana pandangan menjadi petani tidaklah keren. Mereka berpandangan  jauh lebih keren kalau bekerja di hotel atau villa karena berseragam, jamnya kantoran, walau hanya manjadi security atau garderner karena terlihat lebih bersih, tidak bergumul lumpur dan “kontor”. Budaya agraris yang sudah ratusan tahun terbentuk dan menjadi bagian erat kebudayaan Bali, bahkan telah meninggalkan artepak kebudayaan yang bernilai sangat tinggi. Subak, salah satu sistem irigasi yang sangat cerdas, kini merana karena sawah-sawah banyak menjadi areal perumahan, private villa dan hotel. Ironinya. mereka meratakan teras-teras sawah, menanaminya dengan beton dan menamainya dengan nama-nama areal tersebut, seperti terrace villa, the village hotel, sawah indah, dll.

Konsumerisme dan kapitalisme menjadi dewa baru di pulau sorga ini, mall, restoran, hotel dan jejeran gift shop membawa “mahluk asing” bagi alam dan lingkungan  Bali, mereka berwujud kantong dan botol plastik yang jumlahnya berton-ton setiap harinya. Dengan “tong sampah alami” yang banyak ada di Bali, jurang dan sungai menjadi tempat pembuangan sampah-sampah tersebut. Munculah masalah baru, sampah plastik yang mencemari laut, pantai, sungai dan sawah di Bali. Tidak adanya mengolahan sampah yang baik menyebabkan sampah tersebut tidak tertangani.

Sebelum plastik dikenal, masyarakat Bali menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan. Sehabis makan, pembungkus daun itu langsung dibuang di sembarang tempat dan tentu dengan mudah akan diurai alam. Namun, kebiasaan membuang sampah tersebut mengendap di alam bawah sadar, dan diwariskan turun temurun. Ketika sekarang banyak makanan dan minuman dibungkus plastik, perilaku membuang sampah masih tetap mengikuti kebiasaan lama. Sampah plastik dibuang sembarangan tanpa kesadaran akan efek negatifnya. Bahkan banyak petani menggunakan sampah plastik untuk alat mengusir burung pipit, dan sisa plastik itu akhirnya mencemari sawah.

dari proses saya menggali tentang industri pariwisata ini, ternyata sangat erat keterkaitannya dengan sejarah dan tragedy 1965 di Bali. Pada masa itu pembersihan terhadap orang-orang yang dilabeli PKI memang bukalah hanya sekedar amuk masa seperti dikesankan, namun sebuah proses sitematis untuk menghabisi idiologi politik, pergerakan berbasis kelas, gerakan petani dan buruh dan orang-orang kritis lainya. Sehingga memudahkan masuknya sistem baru berupa kapitalisasi Bali sebagai destinasi  wisata, yang juga akan mengkonstruksi industri pariwisata Bali sampai hari ini, bagaimana image orang-orang Bali dibentuk, budaya bahkan kepercayaan orang Bali adalah hasil bentukan. Hilangnya gerakan dan orang-orang kritis di Bali tentunya akan memuluskan semua setingan besar atas Bali, kajian dan perdebatan kritis hampir tidak pernah terjadi atas semua kebijakan yang dilaksanakan untuk pengembangan industri pariwisata, pemimpinnya dibuat patuh terhadap pusat, menjadikan Bali seperti jalan bebas hambatan untuk masuknya investor.

Yang paling celaka adalah masayarakat Bali dikesankan apolitis, penduduknya artistik, disibukan dengan upacara yang megah dan besar. Kesenian yang dulunya merupakan kegiatan agraria masyarakat Bali dan menjadi bagian yang sangat erat dengan kehidupan sosial masyarakat. Saat hadirnya pariwisata, berubah menjadi komoditas yang diexsploitasi abis-abisan. Lukisan, patung menjadi barang souvenir berharga kacangan dan bahkan ada sentra-sentra grosiran terhadap barang-barang tersebut. Anak dengan umur belasan beserta kelompok-kelompok kesenian diangkut dengan truk menuju hotel-hotel untuk pentas dihadapan turis dengan bayaran yang tidak seberapa. Cerita drama tari sarat makna filosofis yang sakral digubah, disesuaikan dengan kebutuhan tontonan bagi wisatawan.

Orang Bali dibuat mabok dengan pariwisata yang menjanjikan kehidupan lebih layak, namun pariwisata hanya memberikan 1% manfaat bagi masyarakat Bali. Namun dampak yang diakibatkan sampai hari ini sedemikian besar, orang Bali tidak mempunyai bayangan dengan masa depannya tanpa pariwisata terbukti saat bom Bali terjadi dan wisatawan stop datang semuanya kesusahan seolah-olah dunia sudah kiamat.

Saya menggunakan lukisan pemandangan yang dibeli di kios grosiran, kemudian saya respon dengan menambahkan bagunan-bangunan dan tulisan promosi tanah dijual, persis seperti banyak terjadi hari ini di Bali. Lukisan tersebut saya tempel di tengah-tengah bidang putih dengan kolase surat kabar lokal. Bidang putih tersebut saya isi dengan sketsa yang saya adopsi dari bentuk rerajahan Bali (gambar bersifat mistik), seri cerita kawah Candradimuka, penghakiman bagi roh setelah kehidupan, jakalau kita melakukan dosa pada saat menjalani kehidupan duniawi, yang mencerminkan nilai luhur masyarakat Bali zaman dulu, namun terasa hambar kini disaat materialism didewakan, banyak orang tidak percaya lagi tentang ajaran karmapala, kamu berbuat, kamu juga akan mendapat hasilnya.

Bagian atas ada dua buah mahluk (adopsi rerajahan) dengan dua lidah berujung api warna hitam menjulur seperti jalan raya menjilati sebuah wajah dengan mata terpejam, sedagkan mata ketiganya membuka.

Di sisi lain ada sebuah gambar mobil keruk yang biasanya dipergunakan dalam proyek pembangunan, menggambarkan situasi Bali hari ini, namun tetap dengan visual mengadopsi bahasa visual lukisan tradisional Bali, di atasnya ada sebuah banguna candi bentar namun konstruksinya kellihatan dan sudah rapuh memiuh dengan warna putih.

Paling bawah dengan teknik pointelis, ada jejeran tengkorak dan tulang-tulang menggambarkan pondasi bangunan kebudayaan dan industri pariwisata Bali terbangun dari tumpukan korban tragedy 65 yang sampai saat ini masih menjadi aib bagi sebagian orang untuk mengingat dan membicarakannya. Bagi orang Bali tragedy itu sudah “dibersihkan” dengan sebuah upacara besar dan hendaknya jangan diungkit-ungkit lagi.

Beberapa kali terdengar kabar ketika ada sebuah pembangunan fasilitas hotel di kawasan tertentu di Bali, saat pembuatan pondasi para pekerja menemukan tulang belulang manusia atau saat terjadi abrasi sebuah pantai dikawasan Bali barat, tiba-tiba banyak tulang manusia muncul karena daratan semakin tergerus air. Kalau melihat sistem upacara ngaben di Bali, masayarakat Hindu Bali yang terpengaruh Hindu Siwa tidak pernah menyisakan tulang manusia terkubur, semuanya akan dibakar menjadi abu, kecuali beberapa kepercayaan kuno Bali pedalaman seperti Truyan atau di desa Gobleg di Bali utara. BIsa dipastika tulang-tulang tersebuat berasal dari kuburan massal atas orang-orang yang dilabeli anggota PKI, dibunuh di tempat itu dan langsung dikubur disana.

Twin Skelaton

July 11, 2011

Twin Skelaton 65x65cm acrylic and spray paint on canvas 2008